Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru

  • 1912,2018

    Badan Wakaf Indonesia Sosialisasikan Wakaf ke Generasi Milenial

    Rumah Ginjal - SURABAYA (Suaramuslim.net) – Wakaf merupakan salah satu instrumen pembangunan ekonomi yang memiliki potensi besar di Indonesia, dilihat dari sumber daya alam atau tanahnya, jumlah harta wakaf di Indonesia terbesar di seluruh dunia. ini merupakan tantangan bagi umat untuk memfungsikan harta wakaf secara maksimal.

     

    Wakaf Goes to Campus

    Pusat pengelolaan dana sosial Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) menggelar Wakaf Goes to Campus III di Aula Garuda Mukti, Gedung Rektorat UNAIR pada Kamis (15/11/2018). Kegiatan Wakaf Goes to Campus ini diselenggarakan di beberapa kampus di Indonesia.

     

    Wakil Rektor I UNAIR Prof. Dr. Djoko Santoso menyatakan, melalui wakaf produktif seseorang dapat menggunakan waktu dan dana yang terbatas namun bisa menghasilkan multiplier effect yang luar biasa.

     

    “Wakaf selama ini masih dipandang sebelah mata dalam berbagai aktivitas ekonomi, termasuk pendanaan pendidikan tinggi di Indonesia. Padahal, jika kita mau merujuk ke negara lain di dunia, wakaf telah memiliki peran sentral dalam pendanaan pendidikan tinggi. Sebut saja salah satu universitas tertua di dunia, Universitas Al Azhar di Mesir dan Harvard,” tutur Djoko.

     

    Prof Djoko menyebut, dengan potensi yang luar biasa, maka universitas dapat menciptakan potensi yang ada. Maka dari itu, harapan dari program Wakaf Goes to Campus bisa mengajak warga kampus terutama kalangan masyarakat mahasiswa untuk bersama-sama BWI dan para pegiat wakaf lainnya memajukan dunia perwakafan di Indonesia.

     

    “Visi ini sangat luar biasa sehingga melalui wakaf akan bersatu padu mencetak generasi pemimpin yang dapat terfasilitasi. Melalui wakaf masuk kampus, memahamkan mahasiswa dan pemahaman itu akan disebarluaskan kepada masyarakat untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam hal mempercepat peningkatan human development index,” ungkapnya.

     

    Menurut Prof Djoko, jika wakaf di kampus berhasil maka generasi-generasi muda dan pesantren dapat menggantikan yang sudah tua untuk turut memajukan Indonesia.

     

    “Maka wakaf perlu dikumandangkan, dikemas menjadi sesuatu yang menarik bagi generasi muda, termasuk memanfaatkan teknologi masa kini, karena saat ini kita di era milenial,” pungkasnya.

     

    Gandeng Generasi Milenial

     

    Sementara, Ketua Umum Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA dalam sambutan pembukaan Wakaf Goes to Campus di Aula Garuda Mukti, Gedung Rektorat UNAIR pada Kamis (15/11/2018) mengatakan, gerakan wakaf ini hasil kerjasama bersama beberapa kampus, di antaranya Universitas Airlangga, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya serta Gerakan Wakaf Indonesia.

     

    “Dalam hidup terdapat 3 dimensi, masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Yang perlu digarisbawahi adalah yang ketiga, masa mendatang. Artinya jangan sampai kita menderita myopic (rabun jaun) mengalami kesulitan ketika memandang sesuatu yang agak jauh,” kata Prof Nuh.

     

    Prof Nuh mengajak bersama-sama untuk membeli masa depan dengan masa sekarang, maka wakaf ini sangat penting disosialisasikan di lingkungan kampus, karena lingkungan ini merupakan tempat generasi terdidik dan mempunyai masa depan yang baik.

     

    “Mengapa milenial? Karena jika kita melihat generasi Rasulullah, sebagian besar sahabat di sekelilingnya berusia muda. Sebagai contoh, seorang panglima perang yang begitu kuat dan dihormati kaumnya, punya posisi tinggi namun bisa dibunuh dengan hanya serangan dua orang remaja di bawah umur jaman Nabi,” paparnya.

     

    Sementara, lanjut Nuh, Sultan Mehmet II yang juga dikenal sebagai Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel dan dilakukan pada saat usianya masih 21. Ini merupakan bukti jangan meremehkan anak muda, jika mereka dididik secara benar maka akan menjadi luar biasa.

     

    “Bersyukurlah bagi yang muda, dan lebih bersyukurlah bagi yang tua karena bertemu anak muda,” ucap Nuh yang disambut gelak tawa peserta.

     

    Alasan kedua, menurut Nuh, mengapa harus generasi milenial, karena kelompok ini nantinya akan menjadi kelompok menengah dengan jumlah yang cukup besar disebabkan kita sedang mengalami bonus demografi.

     

    “Di samping itu kelompok generasi ini memiliki kesadaran keberagamaan tinggi, mereka haus dengan teknologi yang melekat di dalam dirinya, sehingga diharapkan mereka menjadi pencetak sejarah baru perwakafan di Indonesia,” tuturnya.

     

    Untuk bisa mengelola harta wakaf yang bersifat produktif, lanjut Nuh, harus orang yang memiliki pengetahuan memadai, berintegritas, dan mempunyai visi entrepreneurship. Karena jika tidak memenuhi poin ketiga, maka wakaf akan menjadi statis yang bertentangan dengan konsep wakaf.

     

    “Syarat yang paling mahal adalah kemampuan nazir untuk mengelola, meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan kualitas sistem dakwah, serta menjaga sistem marwah dan martabat bangsa Indonesia. Jangan bangga hanya umat muslim mayoritas tetapi umat muslim harus bisa menjadi umat yang besar dan dengan kualitas daya yang juga tinggi,” tutupnya.

     

    Reporter: Dani Rohmati

    Editor: Muhammad Nashir

Copyrights © 2018 DSI-UNAIR. All rights reserved.